Tag

, , , ,

18 November  2010 waktu lokal Brainerd, Minnesota atau 19 November 2010 waktu Indonesia barat adalah hari yang akan mengubah hidupku selamanya, hari yang menimbulkan banyak tanda tanya dan sedikit kontroversi. Hari itu, aku melangsungkan pernikahan secara online via Skype. Pertanyaan demi pertanyaan segera meluncur deras ke arahku dan beberapa kawan dekatku, ekspresi dan pernyataan tak percaya serta terkejut tersurat dalam pertanyaan mereka. Apa? Bagaimana Bisa? Sahkah? Kenapa Terburu – Buru?

Apakah ini tanpa rencana? Tidak juga, kami merencanakannya dengan cukup matang sebelum keberangkatanku ke Amerika. Pernikahan kami dibagi dalam 3 tahap utama, yang pertama adalah pernikahan siri tertanggal 10 Juli 2010. Lalu, kenapa siri? Karena kami kehabisan waktu, dan seluruh perhatianku tersita oleh persiapan keberangkatanku ke Amerika tertanggal 26 Juli 2010. Aku dan istriku bukanlah pasangan baru kenal, kami berpacaran cukup lama saat SMA. Bisa dikatakan kami tergolong kelompok CLBK! Tidak membutuhkan waktu lama untuk memutuskan bahwa kami akan menikah dan hidup bersama.

Skype Wedding

Tahap kedua, tentu saja peresmian pernikahan di hadapan KUA. Agar pernikahan kami tidak hanya sah secara agama, tapi secara hukum Indonesia juga. Sekali lagi, ini sudah kami rencanakan sebelumnya, berdasarkan inisiatiku untuk menjadikan pernikahan kami sesuatu yang spesial dan unik.

 

 

Anindita Kaendra, istriku

Tercetuslah ide pernikahan online via Skype, lalu bagaimana keabsahan pernikahan semacam ini? Syarat sahnya Ijab Qabul adalah mempelai pria atau perwakilannya (ditunjuk lewat surat kuasa) harus berjabat tangan secara langsung dengan ayah dari mempelai wanita. Maka, aku mewakilkan pengucapan Ijab Qabul kepada saudara kandungku bernama Angga Irawan, hal ini sudah memenuhi syarat sahnya pernikahan versi KUA.

Pernikahan online kami menyita perhatian banyak orang, terutama di tempatku berkuliah. Media lokal Brainerd Dispatch juga meliput pernikahan kami sebagai sesuatu yang spesial dan menerbitkannya di edisi hari Minggu.

(tertarik untuk membacanya? klik di SINI)

Ketiga dan terakhir, tentu saja acara resepsi pernikahan kami di Indonesia. Setelah aku pulang dan putra pertama kami lahir, akan tetapi belum ada keputusan mengenai waktu pastinya. Putra? Iya, putra. Aku meninggalkan istriku dalam keadaan hamil dan baru mengetahuinya setelah 2 minggu menetap di negara Amerika ini, tepatnya pada tanggal 9 Agustus 2010, 1 bulan 2 hari setelah pernikahan siri kami. Sesuatu yang sangat besar sedang menantiku dan aku menikmati tiap detik yang kami lalui untuk menjadi keluarga seutuhnya.

Thank You and Happy Thanksgiving!