Tag

, , , , , ,

Hari ini, hampir 5 bulan sudah aku berada di negara nomor 1 di dunia. Di tengah – tengah kerinduan terhadap kampung halaman dan orang – orang terkasih, aku merasa bersyukur telah diberikan kesempatan untuk berada di sini. Kalau boleh aku berkeluh kesah, ternyata pepatah semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpa adalah benar adanya. Mungkin aku belum setinggi itu, tapi perjalanan menuju ke atas, terlepas dari pandangan umum bahwa itu adalah suatu perjalanan yang menyenangkan adalah suatu pengorbanan, pembuktian dari keteguhan komitmen dan kerja keras.

Side Road View

Di negara ini, aku dan berpuluh – puluh rekan dari tanah air, tersebar hampir di seluruh penjuru Amerika Serikat harus berjuang menghadapi language barrier. Kami harus memahami beratus – ratus halaman buku dalam bahasa yang berbeda dari bahasa Ibu kami serta harus mendengarkan kuliah dengan bahasa Internasional itu tiap hari, untuk kemudian menulis paper dan menuangkan hasil pemikiran tentang permasalahan atau tugas dari instructor di sini. Bahasa penulisan paper sangat berbeda dari bahasa percakapan tidak formal sehari – hari dan di situlah aku mengalami kesulitan untuk menerjemahkan pemikiran Indonesiaku.

Walking on Icy Road

Tantangan lainnya adalah cuaca yang tidak ramah, Minnesota terkenal dengan musim dinginnya yang buruk. Selama beberapa bulan ke depan, kami harus menembus hawa dingin dengan suhu rata – rata minus 10 derajat Celcius untuk pergi ke kampus atau beraktivitas lainnya. Melangkah di atas jalanan tertutup salju tebal, terkadang butiran lembut salju turut turun menyapa dan kami harus menjaga suhu tubuh tetap hangat.

Well, bagaimanapun keadaannya aku tetap bersyukur dan bangga bisa berada di sini. Aku berharap, apa yang sudah kulalui dan kulakukan di sini, semua hal yang telah kupelajari bisa memberikan kontribusi bagi merah putih saat aku menginjakkan kaki di tanah kelahiran lagi.