Tag

, ,

Ada masanya dalam hidupku ketika aku merasa benar – benar tak berdaya, gagal, tak mampu melangkah dan hancur. Seperti hari ini, saat kulangkahkan kaki menuju apartemen, kuliah baru saja usai, rintik salju turun membasahi jalan dan tubuh tak bernyawaku.

Pikiranku pergi entah ke mana, aku merasa aku tak mengenali diriku sendiri hari ini. Mungkin aku memang tidak tahu siapa diriku sebenarnya selama 23 tahun keberadaanku di dunia.

Kekecewaan dan kemarahanku terakumulasi, aku merasa frustasi terhadap seseorang bernama Jaka Mahendra. Aku kecewa terhadap diriku sendiri, sering kali aku merasa usahaku tidak cukup keras, aku merasa melakukan semuanya setengah – setengah di saat aku bisa melakukan lebih dari itu.

Terlebih lagi aku tidak punya fokus, tak ada arah, aku hanya melangkah di atas jalan setapak di hadapanku, tanpa peta. Aku ikuti ke manapun ia membawaku, dan hanya bisa terkejut saat menemui sesuatu yang tak kuharapkan di akhir jalan.

Sering kali, aku menemui jalan buntu dan harus kembali ke titik di mana aku memulai perjalanan gila ini atau bahkan merangsek masuk ke zona antah – berantah untuk mencoba mencari jalanku sendiri.

Lalu aku mulai bertanya, pada diriku, pada orang yang kutemui. Apakah aku salah? Karena tak memiliki rencana? Salahkah aku saat harus menemukan jalanku sendiri?

Apakah aku salah saat menemukan diriku terdampar di satu titik kehidupan yang penuh masalah?

Sumpah aku tak tahu, aku tak punya sosok bijaksana yang kalian panggil ayah sejak aku memulai perjalanan hidup ini.

Aku tak punya sosok berpengalaman, yang telah melewati jalan kehidupan dan berhasil memetakannya. Aku tak punya dan merasa iri terhadap kalian.

Sungguh besar keinginanku, untuk segera lari dan mencari perlindungan saat menemukan bahaya di tengah perjalananku. Pernah sekali, kulakukan itu tapi di ujung pelarianku tak ada sosok ayah yang siap menyambutku dengan dekapan, atau nasehatnya.

Tak ada siapapun, hanya kenyataan pahit bahwa aku sendirian, yang mau tak mau harus kutelan.

Bertahun – tahun setelah kejadian itu, aku menemukan diriku sendiri di suatu titik di mana aku harus menjadi sosok yang selalu kuimpi dan rindukan. Seorang manusia yang baru saja terlahir akan memanggilku ayah.

Aku seorang ayah sekarang.

Aku bahagia, tapi juga sangat takut, tak ingin anakku mengalami hal yang sama denganku dulu. Akan kuberikan semua yang tak pernah kudapat sebagai seorang anak. Aku akan selalu ada untuk anakku, memberikan semua yang dia inginkan untuk meraih impiannya.

Tapi, aku merasa aku belum layak menyandang gelar ayah. Aku masih gagal, aku bukan siapa – siapa, aku takut melihat anakku kecewa terhadapku. Aku tak punya apa – apa, aku takut jika dia meminta sesuatu yang tak bisa kuberikan. Aku khawatir.

Maafkan ayah nak jika itu terjadi, saat kamu lahir ayahmu ini hanyalah seorang laki – laki muda, belum berlimpah harta, bahkan masih belum cukup dewasa pemikirannya.

Tapi, satu hal yang kamu perlu tahu. Ayahmu akan melakukan segala usaha, menempuh jalan panjang berbatu, ataupun menenggak racun kematian asalkan kamu, yang kuberi nama Arjuna Kaendra bisa hidup berkecukupan dan tumbuh menjadi laki – laki hebat yang namanya akan bersinar dan dikagumi banyak orang.