Tag

, , , , , , , , , ,

Aku berada di sepertiga kehidupanku, apabila menggunakan standar umur Nabi Muhammad yang wafat pada usia 65 tahun. Banyak sudah lalui luka, lelah, pun bahagia. Banyak sudah kudapat, pun tak kalah banyak yang lepas ataupun tak tergapaiku.

Satu pegangan hidupku, tak pernah lepas dalam berkehidupanku, aku selalu berani bermimpi. Tak seorangpun kuijinkan untuk merebut, apalagi membunuh hakku untuk bermimpi. Bahkan orang tuaku sendiri. Berprinsip, berani berbeda, tak takutku dicaci sebagai pengejar mimpi.

Apabila ada yang berucap, “Jangan bermimpi tinggi – tinggi, muluk – muluk, nanti kalau jatuh pasti sakit.” Tunjukkan, bacakan dia tentang tulisanku ini.

Ceritakan padanya siapa aku dan asal – usulku, juga semua impian, yang dulu kubayangkan dengan sungguh – sungguh dan menjelma menjadi anugerah nyata dalam hidupku, kupaparkan di sini, dalam tulisan yang Insya Allah tidak kukurangi atau kulebihi kadar keabsahannya:

  • Aku yang masih SD kala itu, terpesona dengan buku geografi kakakku. Setiap malam, saat buku itu tergeletak di meja belajar, aku membacanya. Hanya satu bagian, kubaca berulang – ulang, terpesona aku dengan semua informasi tentang benua itu dan betapa inginnya aku menginjakkan kaki, berpetualang di atas tanahnya yang indah. Benua itu bernama Amerika.

Yah, itu memang aku. Memakai kemeja kotak – kotak dan jaket kulit. Di depan White House of AMERICA.ย 

  • Masa SMA, kuikuti proses seleksi pertukaran pelajar AFS. Aku adalah siswa terkenal kala itu, nilai Matematikaku di rapor 4, guru – guru terlalu ngefans kepadaku sehingga sering meminta tanda tanganku di atas lembaran buku hitam sekolah, absensiku sangat bervariasi, dihiasi huruf A, S, dan I secara bergantian. Tapi, aku berangkat menuju tempat tes untuk satu tujuan, untuk satu mimpi, menyentuh salju. Kubawa impian itu ke kelas, ke meja belajar, ke piring makan, ke kasur, ke WC, tak berhenti aku membayangkan diriku di antara salju putih indah.

    Lolos aku sebagai delegasi AFS Indonesia ke Jepang. Kucelupkan diriku di antara salju.

  • Sebagai bungsu, aku selalu berada di bawah bayang – bayang kakakku yang “sempurna” menurut versi Ibuku. Aku tak suka diremehkan atau bahkan kalah. Aku hanya bilang, “Aku akan membuat Ibu bangga setengah mati padaku, suatu saat foto wajahku akan memenuhi kota sumpek nan sesak ini dan dengan bangga Ibu akan bercerita kepada semua orang sembari menunjuk foto anak bungsumu.” Melalui hari penuh tekanan, berpikir keras dan berupaya mewujudkan kata – kataku. Hasilnya, tak terlalu buruk.

    Lihat dengan jelas, itu wajahku dan pembuktian kata – kataku.

Agak tak nampak, tapi itu adalah pembuktian kata – kataku juga

Wajahku, dan sahabat yang selalu mendukungku.

  • Sebagai pejuang hidup yang tak punya gelar dari Universitas, kesempatanku bersaing di dunia kerja sangat tipis. Bersumpah aku, untuk mendirikan bisnisku sendiri, dan tidak akan menilai calon karyawanku menurut tingkat pendidikan mereka. Saat SMA, aku selalu membicarakan tentang memiliki perusahaan Event Organizer, cukup konsisten aku dengan impian itu selama bertahun – tahun, sekarang pun masih, bedanya itu bukan mimpi lagi.

    Job pertamaku, menggarap Speedy Tour d’Indonesia 2011.

  • Usiaku 24 tahun sekarang, kehidupanku berubah dengan pendamping hidup yang setia, dan anugerah luar biasa yang kami namakan Arjuna Kaendra. Iya, aku telah berkeluarga, the lone dreamer tak sendiri lagi. Sekarang, bukan hanya tentang impianku, tapi impian kami bertiga, dan mungkin berempat, setahun lagi. Aku menganggap semuanya normal, sampai seorang sahabatku berkata, “Keturutan yo kamu, nikah di usia 23”. Kusahut, “Emang’e aku pernah ngomong gitu?”, dia timpali, “Ya iyalah, waktu itu kita masih di bangku SMP dan kau selalu berujar, bergumam, dan membayangkan tentang menikah di usia 23 tahun dan segera memiliki anak.”ย Satu lagi, impian yang jadi nyata.

    Saya mendeklarasikan berdirinya klan KAENDRA.

Sadar atau tidak, semua impian kita sebagai manusia terekam sebagai sebuah doa. Kalau anda Islam, percayalah bahwa ALLAH memang Maha Mengabulkan. Mintalah, maka pasti IA beri.

Terlepas dari itu semua, anda tahu siapa saya?

Saya adalah seorang anak bungsu, waktu bayi saya divonis memiliki radang otak, saya juga pengidap dyslexia, orang tua saya bercerai, saya lulus SMA karena mendapat keringanan biaya yang dipotong separuh dan untuk membayar biaya yang sudah dipotong itu, saya mengandalkan beasiswa JPS dari Pemerintah, turun tiap 6 bulan sekali.

Saya tak sempat merasakan nikmatnya berkuliah, tak ada biaya. Saya pernah mencari uang, dengan bekerja part time di perusahaan sablon, saat SMP. Pernah juga mencari uang dengan berjualan susu sapi keliling, ataupun mengantar krupuk bikinan Ibu saya ke warung – warung.

Tapi, saya tidak pernah menyesal dilahirkan sebagai seorang JAKA MAHENDRA.