Tag

, , , , ,

Seandainya saja kalian berdua bisa seperti ini sampai sekarang dan selamanya. Tapi, bagaimanapun dia adalah ayahku. Aku tidak suka ada yang menjelek - jelekkan dia di hadapanku. Akan kupatahkan jadi dua mulut orang yang menjelek - jelekkannya.

Ibuku itu orangnya keras, dia adalah diktator di rumah kecil jelek yang kami kontrak sejak aku menginjak kelas 4 Sekolah Dasar, aku ingat betapa menakutkannya dia saat marah. Sejak orang tuaku bercerai, Ibuku adalah seorang single fighter, menjalankan peran sebagai Ibu dan mencari nafkah.

Sejak aku kecil, Ibu selalu bilang, “Apapun yang terjadi, kamu dan mas harus tetap sekolah, Ibu gak peduli dan gak keberatan melakukan apapun demi itu.” Ibu adalah seorang lulusan SD, dari desa terpencil di daerah pegunungan Tulungagung tapi Ibu tidak mau aku dan kakakku mengalami hal yang sama. Kebutuhan kami untuk sekolah selalu diprioritaskannya.

Aku akrab dengan keprihatinan sejak kecil, Ibu pernah bercerita, sejak aku berusia 1 tahun dan berhenti minum ASI, Ibu langsung memberiku susu kental manis cap Nona, bukan karena keinginannya tapi keadaan memang mengharuskan seperti itu. “Daripada tidak minum susu”, ujarnya. Tiap kali mendekati hari raya Idul Fitri, Ibu selalu mengingatkan kami, “Kalau memang nanti Ibu ada uang, Ibu belikan kalian baju baru. Tapi kalau gak ada, ya sudah. Baju kalian masih banyak, yang penting bersih dan wangi, gak harus baru”. 

Sejak TK, Ibu selalu mengawasi dan mendampingi perkembangan belajarku, tiap pagi Ibu dengan semangatnya menyiapkan bekal di wadah plastik murahan, mengisinya dengan kue – kue kering kilo’an, yang dia beli beberapa ons saja tiap minggu. Menuangkan air putih di tempat minum kecilku, yang dia godog pagi – pagi buta sebelum aku bangun. Merapikan seragam, menyisir rambutku dengan belahan pinggir (aku masih tetap menyisir rambutku seperti itu sampai sekarang). Kemudian, mengantar Jaka kecil pergi sekolah, menunggu sampai selesai, dan kami pun pulang bersama – sama sembari menanyai apa saja yang kupelajari tadi.

Beranjak SD, hatiku selalu cenat -cenut saat pembagian rapor di akhir cawu. Ibu menetapkan standar yang terlalu tinggi buat seorang pengidap dyslexia sepertiku, tidak ada nilai 7! Dan haram hukumnya nilaiku yang sekarang lebih rendah dari nilaiku dulu. Gara – gara itu aku pernah, menghapus nilai di rapor dengan type – ex, merubahnya jadi angka yang lebih tinggi (adik – adik, jangan ditiru ya).

Aku juga pernah ditampar Ibuku, waktu itu aku marah dan menyobek – nyobek buku tulisku, tiba – tiba aku merasakan pipiku panas karena tertampar, Ibuku yang berbadan tinggi sudah ada di depanku dan bilang, “Ibu berusaha keras buat bayar sekolah dan beli bukumu, hargailah sedikit.” lalu dengan cool dia beranjak pergi meninggalkanku yang masih belum sadar kalau aku baru saja ditampar.

Beberapa didikannya yang sampai sekarang, kurasakan sangat berharga adalah didikannya tentang kemandirian, berdiri di atas kaki sendiri, tentang kesederhanaan, juga kerja keras.

Di kota probolinggo, Ibu adalah pendatang, tanpa sanak saudara. Satu – satunya yang bisa dibilang saudara, mungkin adalah keempat adik kandung ayahku. Tapi, Ibu adalah benar – benar seorang single fighter, tak pernah Ibu meminta bantuan kepada keempat adik iparnya di Probolinggo (dan juga mereka sepertinya tak peduli dengan keadaan kami), apalagi minta bantuan kepada orang lain. Dengan berapi – api, Ibu bilang, “Apapun yang terjadi, Ibu tidak akan menerima atau meminta – minta bantuan orang lain, Ibu sanggup mencukupi kalian seorang diri”. Aku pun hanya bisa bilang, “Hidup IBU!”

Dan Ibu pun membuktikan kata – katanya, berjualan krupuk, rempeyek ataupun kue. Ibu membeli krupuk mentah, menggorengnya, kemudian membungkusnya dengan plastik, merangkai plastik – plastik berisi krupuk itu supaya terlihat cantik dan bisa digantung di toko. Ibu meminta kami, anak – anaknya untuk mengantarkan krupuk dagangan itu ke toko – toko. Aku yang saat itu masih kecil, tidak diijinkan untuk naik sepeda sendiri, kakakku mengayuh sepeda, aku berdiri di atas roda belakang, berpijak baut yang sudah dipanjangkan di pinggir roda, kedua tanganku menenteng rangkaian krupuk.

Pernah suatu ketika, kami berdua jatuh dari sepeda, namun entah bagaimana krupuk di kedua tanganku selamat dari remuk, aku ingat jatuh di pinggir jalan dengan tangan terangkat, berusaha menyelamatkan krupuk, badanku sudah menghantam tanah, kedua kakiku lecet – lecet kemudian kakakku menolongku bangkit, dan kami memutuskan untuk pulang dulu. Sampai di rumah, kubuka pintu, belum sempat aku bercerita, Ibu yang melihatku menenteng krupuk dengan kaki berdarah – darah segera memelukku, Ibu menangis sambil menanyakan keadaanku. Aku yang tadinya fine – fine saja, akhirnya ikut menangis. (T_T)

Uang adalah barang langka bagiku dan kakakku, saat aku SD, uang sakuku hanya Rp. 50,- saja, harga kue termurah dan terkecil saat itu adalah Rp. 50,- harga es orson plastik kecil sekitar Rp. 50,- . Ibu bilang, “Hanya ini uang yang akan kamu terima setiap harinya, Ibu tidak sanggup memberimu lebih. Yang penting kamu sudah makan kenyang di rumah, jajan di sekolah itu tidak terlalu penting.”

Dalam hatiku, “Oke deh, aku juga gak doyan amat – amat sama jajan”. Berangkatlah aku berjalan kaki, sesampainya di sekolah, bukan jajan yang menarik perhatianku, tapi mainan plastik yang dijajakan di pinggir – pinggir sekolah. Kuhampiri dan bertanya, “Pak, mainan yang ini berapaan?” sembari menunjuk dinosaurus plastik besar. Paknya menjawab, “Yang ini Rp 500,- an le.” Aku pun membatin, “Asem, duitku cuma Rp. 50,-“ lalu aku bertanya lagi, “Kalau yang harga Rp. 50,- an ada gak pak?” Paknya menjawab, “Ada” kemudian menunjuk mainan dinosaurus plastik seukuran ibu jariku. Aku membatin lagi, “Ini sih mainan bayi pak, aku kan sudah besar, sudah SD, harusnya mainannya besar juga dong”.

Selesai ngobrol dengan pak penjualnya, aku pun melangkahkan kaki pulang, aku dongkol, teman – temanku sudah beli semua tapi aku belum punya. Aku berpikir, bagaimana caranya bisa beli mainan itu. Tidak mungkin aku minta uang Rp. 500,- ke Ibuku, karena tadi pagi udah dibilangin gak ada duit lebih buatku. Kali ini aku pulang tidak lewat jalan biasanya, jalan memutar sambil mencari akal.

Kuambil batu – batu kecil di jalan, kulempar ke pagar -pagar rumah mewah yang kulewati, aku merasa senang saat batu yang kulempar membentur pagar besinya dan menimbulkan suara TING! Namun hari itu aku apes, aku salah lempar dan mengenai anjing yang lagi duduk – duduk santai.

Akupun berteriak WAAAAAAAAAA! sambil berlari dikejar anjing. Setelah berlari cukup jauh dan capek, akhirnya aku terselamatkan oleh salah seorang pembantu rumah yang kebetulan lagi nyapu halaman majikannya.

Setelah puas dikejar anjing dan mengucapkan beribu – ribu ucapan terima kasih pada pembantu tadi, otak SDku menemukan solusi untuk mendapatkan mainan dinosaurus besar tadi. Buru – buru aku pulang menemui Ibu dan bilang, “Bu, nanti 10 hari ke depan uang sakuku titip di Ibu dulu ya? Aku cukup bawa bekal air minum aja.” Ibuku bengong, lalu dengan penuh keceriaan aku jelaskan kalau aku baru saja lihat mainan dinosaurus besar yang keren, lalu kujelaskan betapa aku sangat menginginkannya dan rela melakukan apapun demi mendapatkannya, termasuk tidak jajan dulu di sekolah. Ibuku setengah tersenyum dan menjawab, “Iya”.

Aku merasa kalau Ibuku menyesal karena tidak bisa membelikan mainan itu untukku, tapi aku juga merasa kalau dia bangga terhadapku, karena aku yang masih SD sudah mengerti untuk tidak mengandalkan orang lain demi mendapatkan mainanku, karena aku sudah belajar bagaimana caranya berdiri di atas kaki sendiri.

Kalau aku ingat masa – masa dulu, banyak kejadian yang bisa dibilang menyedihkan. Saat SD, tiap pagi aku selalu bengong karena kawan – kawanku bercerita mengenai acara TV semalam, sedangkan aku hanya punya radio kecil. Saat SD pula, sehabis aku bersepeda sambil berhujan – hujan dan kedinginan, kawanku bilang, “Pulang dulu ah, lapar habis hujan – hujan. Ibuku masak cumi – cumi di rumah.” Aku yang juga merasa lapar, bergegas pulang, setelah mandi dan ganti baju, kubuka tudung saji, di sana cuma ada nasi putih dan semangkuk kepala ikan kecil – kecil penuh duri dimasak asam manis, sisa masakan tadi pagi. Jengkel sih, tapi kulahap saja apa yang ada, walaupun gusiku harus tertusuk – tusuk duri.

Malam saat kutulis artikel ini, aku tersenyum, hatiku penuh rasa syukur mengingat – ingat kenangan dulu. Bersyukur pernah mengalami hidup sulit, terutama lagi bersyukur karena memiliki seorang Ibu yang tegar, yang membesarkan anak- anaknya sendirian, dengan penuh kedisiplinan dan kasih sayang berlimpah – limpah. Seorang Ibu yang sudah membesarkan si little tiger ini, yang mampu memotivasi aku mencapai impian – impian and makes me Living My Dreams.

I Love You Mom. (^_^)