Tag

, , ,

Kami tidak memiliki seragam formal, seragam kami adalah apapun pakaian yang kami miliki dan pakai saat itu.

Tidak ada yang menjamin jumlah gaji kami setiap bulan, besar gaji kami ditentukan oleh seberapa keras upaya kami di bulan itu.

Besar dana pensiun kami ditentukan oleh seberapa besar cadangan keuntungan dari perkembangan usaha semasa berkarya di usia produktif kami.

Strata sosial kami tidak tinggi, apalagi saat kami berkotor – kotor, berpeluh memulai usaha kami.

Saat anda sakit hati karena diremehkan satu kali, kami sudah tidak punya rasa sakit hati saking seringnya diremehkan sekitar kami.

Kami menatap ketidakpastian masa depan dunia usaha dengan segenggam optimisme dan doa yang kami panjatkan setiap hari.

Sering kali, upaya dan materi yang kami keluarkan, tidak menghasilkan sepeser pun uang, dan kami hanya tahu bahwa semakin sering gagal, semakin dekat kami dengan keberhasilan.

Kami tidak memikirkan weekend ini hendak berwisata ke mana, hendak membeli baju apa, kami hanya berpikir bagaimana hendak mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan usaha ini.

Tapi kami bangga, menyandang gelar pengusaha mandiri, kami ikhlas bekerja tanpa henti, kami yakin suatu saat semuanya akan berakhir dengan manis, karena Tuhan Maha Adil, Ia selalu membayar impas semua upaya yang dilakukan umatNya, termasuk kami.

Kami yakin, sukses adalah milik semua orang. Bukan hanya milik orang berpendidikan, berseragam, dan berstatus sosial tinggi.