Tag

, , , ,

Entah sejak kapan, ketakutan ini berawal. Dalam hati, selalu ada perasaan ini, perasaan yang merasa mewujud dalam keseharianku.

Aku adalah bungsu dari 2 bersaudara, ayahku keturunan Jawa – Cina, Ibu asli Jawa Tulungagung. Secara kadar, darah Cinaku hanyalah 1/4 tapi muka, kulit, mata, terutama alisku kental dengan aroma Cina.

Sebagai anak – anak, aku tumbuh normal, masa kecilku boleh dibilang bahagia walaupun hanya nampak di permukaan. Suasana rumah tangga orang tuaku memang tak pernah akur, tapi berkat kelihaian Ibuku menyembunyikannya, aku yang masih kecil beranggapan semua normal saja.

Dalam pergaulanku kala itu bersama teman – teman sebaya, aku mulai menyadari bahwa aku berbeda. Kulitku lebih cerah, mataku lebih sipit daripada teman sepermainanku. Dan, aku mulai merasa aneh saat orang dewasa di sekitarku memanggilku dengan sebutan NYO, bukan LE sebagaimana mereka memanggil teman – temanku. Dan aku juga tak habis pikir, kenapa mereka harus berbahasa Indonesia saat berbicara padaku, namun berbahasa Jawa Ngoko kepada yang lain. Dalam benak kecilku, muncul kenapa yang teramat sangat besar.

Aku menyimpulkan, mungkin warna kulitku kurang gelap, karena itu mereka memperlakukanku lain. Akhirnya, otak kecilku kala itu berpikir bagaimana caranya menggelapkan kulit. Solusinya? Mandi di laut pada saat matahari tepat berada di atas ubun – ubun. Beberapa kali hal itu kulakukan, bukannya menggelap, kulitku malah memerah dan orang – orang masih tetap berbahasa Indonesia. Aneh memang, pikirku saat itu.

Kemudian, aku (mungkin) menemukan sebab lain. Alisku, tumbuh naik ke atas seperti alis Kwan Yu (salah satu jendral dalam sejarah tiga kerajaan). Solusinya? Kucukur alisku, tepat di bagian itu. Sekarang, aku punya alis normal, mungkin orang – orang itu akan berhenti memanggilku NYO. Kenyataannya, tidak. Akupun heran sepuluh ribu heran lagi.

Dan akupun mulai menemukan keanehan – keanehan lain. Orang mulai terkejut saat kubilang agamaku Islam, dan mereka semakin terkejut – kejut saat melihatku membeli sesuatu di toko sambil menggunakan bahasa Jawa halus. Pernah aku mendengar, mereka berkata seperti ini, “arek iki Cino, tapi kok iso boso Jowo?”, yang artinya, “anak ini Cina, tapi kok bisa bahasa Jawa?”.

Sebagai anak kecil yang menghadapi kejadian – kejadian tersebut bertahun – tahun, aku mulai minder. Aku merasa tidak nyaman di lingkungan pergaulanku, aku iri dengan kakakku yang berciri – ciri fisik Jawa tulen. Aku iri dan ingin diperlakukan seperti dia.

Aku mulai tiba pada satu titik, di mana aku takut untuk keluar rumah. Aku mulai merasa takut orang tidak bisa menerimaku sebagai keturunan Cina. Aku takut dunia tidak bisa menerima keberadaanku.

20 tahun sejak kejadian itu bermula, masih tersisa sedikit rasa takut itu. Walaupun isu rasisme terhadap keturunan Cina sudah mulai berkurang, tetap saja.

Masih tersisa tanya di benakku, apa itu Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika?