Tag

, , , , , ,

Esok, 3 tahun tepat kamu menemani hidupku. 3 tahun, kita berjuang, mempertahankan, menyatukan hidup berdua. 3 tahun, air mata merintih, ketidaksepakatan, perbedaan, cibiran sekitar, menguas kanvas rumah tangga kita.

3 tahun lalu, aku kala itu, 23 tahun, baru saja pulang dari negara kapitalis, tanpa pekerjaan, tanpa apa – apa selain uang 300 dollar yang kusisihkan dari 510 dolar uang sakuku setiap bulan. Melangkah di Juanda, melihatmu nampak letih, sehabis mempertaruhkan nyawamu demi anak kita 40 hari lalu.

Namun, semangatmu tetap sama, kesetiaan, pengabdian, cintamu, sama seperti saat aku meninggalkanmu sendiri dulu.

Aku tahu, aku bukanlah sosok suami ideal, belum bisa dibanggakan, mungkin aku juga belum bisa membalas kebaikanmu padaku. Sampai hari ini.

Aku bukan pegawai negeri, juga tidak terdaftar sebagai karyawan di perusahaan besar, tidak memakai seragam, tidak punya gengsi di mata siapapun. Aku adalah kegagalan, aku adalah makhluk 26 tahun, bermimpi tentang mendirikan perusahaan raksasa di dunia kapitalisme yang megah.

Aku harus sering meninggalkanmu, bekerja tanpa batasan jam. Pagi, siang, sore, malam, dini hari, kapanpun aku dibutuhkan di lapangan.

Keberadaanku, mungkin hanya jadi beban dalam hidupmu. Sindiran, cacian tentangku, menurutku, pasti sering kau dengar namun tak pernah kau sampaikan padaku.

Suamimu, bukan berasal dari keluarga terpandang, suamimu miskin, dari orang tua yang bercerai. Suamimu dicap sama seperti ayahnya. Suamimu, dituduh mengguna – guna demi harta. Tapi kamu, dengan mata bersinar – sinar penuh cinta, menampik semuanya, menaruh semua keyakinanmu padaku, mempercayakan sisa hidupmu. Kamu tabah, menderita bersamaku.

Istriku, kamu api yang menjaga kehidupanku hangat dan bersemangat. Kamu pelabuhan sedih dan bahagiaku. Kamulah udara dalam bumiku.

Sampai Tuhan mengutus Izrail di hadapanku, kamu akan selalu jadi istriku.

Terima kasih, atas semuanya.

Happy 3rd Anniversary. LONG LIVE KAENDRA!