Tag

, , , , , ,

A good man draws a circle around himself and cares for those within – his woman, his children. Other men draw a larger circle and bring within their brothers and sisters. But some men have a great destiny. They must draw around themselves a circle that includes many, many more. You must decide for yourself. (10.000 BC)

Lelaki harus memimpin, mengayomi, dan memperjuangkan. Sesuai kutipan di atas, menggambar lingkaran di sekitar yang dipimpinnya. Lingkaran perlindungan, kesejahteraan. 

Pertanyaannya adalah, seberapa besar lingkarannya? Dan seberapa banyak yang mampu dia masukkan dalam diameter lingkarannya. 

Saya pun, harus menjawab atau memilih seberapa besar lingkaran yang akan saya torehkan di bumi dengan tangan ini. Seberapa banyak orang yang ingin saya lindungi, seberapa mampu nanti.

Sering, saya berpikir untuk menggambar lingkaran kecil berisikan istri dan anak – anak saja. Bukan berarti egois, tapi karena belum tentu orang yang kita tolong memiliki kesepahaman dengan kita, dalam artian mereka mau menolong diri mereka sendiri, bukan hanya menerapkan ilmu pasrah salah kaprah alias malas, ilmu menyalahkan keadaan, ilmu mentalitas korban. Inilah jenis orang yang sangat sulit ditolong.

Mereka memperparah keadaan dirinya sendiri dengan berpikiran negatif, berpikir tentang ketidakmungkinan, serta mulai mencari pembenaran atas kondisi hidupnya.

Saya pun juga belum bersih dari mentalitas korban, semenjak pengkhianatan yang terjadi dalam jantung bisnis KAENDRA GROUP, saya langsung drop, bisnis lumpuh total, saya cenderung diam, statis, tanpa melakukan sikap radikal untuk memulihkan. 

Saya jadi skeptis terhadap apapun, terhadap orang lain maupun peluang – peluang bisnis. Puncaknya, saya skeptis terhadap diri sendiri. Saya mulai menganalisa, mempertanyakan kapabilitas saya sebagai seorang pebisnis.

Saya ragu! 

Saya mencoba memihak ego, memikirkan diri sendiri. Saya tidak mau terlibat dengan yang namanya membantu orang lain. Saya mencoba menggambar lingkaran yang lebih kecil. Saya tidak menoleh kepada rancangan lingkaran besar di meja perencanaan, yang masih berbentuk separuh lingkaran, yang gagal saya selesaikan!

Namun, saya dilahirkan untuk menembus keterbatasan. Secara alami, saya benci batas. Kemudian datanglah orang – orang ini.

Mereka datang, menceritakan impiannya padaku, mereka banyak berharap. Lebih dari itu, mereka percaya aku adalah orang yang tepat dan mampu untuk membantu mereka mewujudkan mimpi – mimpi besarnya. Aku adalah orang hebat di mata mereka, walaupun sebenarnya mereka juga sama hebatnya denganku, bahkan lebih.   

Aku bisa melihat luka di balik senyuman mereka, ketakutan di balik nada keoptimisan. Mereka gusar, berjalan menuju impiannya dengan langkah yang tak teratur, sesekali melenceng jauh dari peta, sesekali diam, sesekali kembali ke tempat awal.

Mereka butuh kompas, kompas hidup yang akan memimpin di depan, menunjuk arah untuk melangkah dengan keyakinan pasti, kompas yang akan tetap berfungsi di tengah samudra berbadai atau di buasnya hutan.

D-Leh-And-Army-10-000-bc-27487625-1024-768

D’leh dan lingkarannya.

Melihat kenyataan ini, saya menoleh ke meja perencanaan, melihat setengah lingkaran dari masa lalu itu dan memutuskan untuk melemparnya ke tempat sampah.

Saya tidak akan mencoba menggambar lingkar batasan lagi, lingkaranku adalah dunia, langit adalah batasnya.