Tag

, , , , ,

Saat bertumbuh dan menjalani umur, saya diperdengarkan dengan kata – kata push harder, you can do it! setiap saat. Aku didoktrin, nothing is impossible!

26 tahun kehidupanku, kuhabiskan dengan semangat untuk menembus batasan, aku adalah pendobrak. Kuhancurkan semua yang menghalangi jalanku mencapai mimpi – mimpi besar.

Aku percaya aku bisa, aku percaya semua tergantung upayaku, lain – lain bukanlah faktor yang harus diperhitungkan.

Aku akan maju saat manusia lain mundur. Aku adalah tipikal pendaki yang akan terus naik melintasi jalur rumput setapak pegunungan walaupun langit menumpahkan hujannya dan matahari berpaling di ufuk barat. Namun, aku selalu melupakan resiko tersesat kedinginan dan mati dalam pendakian.

Aku melupakan faktor Tuhan.

Ambisi telah membakarku, aku menolak mempercayai proses. Aku ingin memperpendek proses dan melompat menuju keberhasilan.

Aku tidak bisa bersabar.

Apakah memiliki mental pendobrak dan memberikan upaya terbaik untuk menolak kegagalan itu bagus? IYA, dalam batas tertentu.

Saat aku berjalan dan menemui tembok tinggi berbatu, aku akan mencari tangga, jika tangganya terlalu pendek, aku akan mencari tali, jika talinya rapuh tak sanggup menahan beban tubuhku, aku akan mencari dinamit untuk melubangi dan membuat jalanku.

Satu kali ledakan, tembok itu berlubang. Cukup besar untuk kulewati dan lebih dari cukup untuk dilalui air yang tersimpan di baliknya. Mengalir, mengalir, terus mengalir sampai arus dan volumenya cukup deras meruntuhkan seluruh tembok batu tinggi yang ternyata adalah sebuah bendungan raksasa yang kokoh dan melumatku dengan air bah.

2 hari yang lalu, seorang teman berkata padaku.

Sabar bro, akan ada jalan yang memang Tuhan tidak ingin kamu melewatiNya. Akan ada rencana kehidupanmu yang ditolak karena Tuhan tahu jika itu berhasil, hanya kehancuran yang akan menemanimu. Jika kamu menemui tembok tinggi itu lagi, temukan peta, cari jalan memutar, carilah jalan tercepat namun lebih aman daripada menembus tembok itu dengan dinamit. Saat inilah, Tuhan akan melihat caramu menggunakan kesabaran dan melihat kesungguhan keikhlasanmu saat melalui jalan memutar itu. Toh, kamu tak akan sendiri saat berjalan, di saat malam dalam lelahmu, kata – kata penyemangat dari istrimu dan senyum dalam riangnya anak – anakmu akan menjadi pengobatmu. Pada akhirnya, kamu akan sampai pada tujuanmu. Nikmati dan syukuri.

Itulah aku, tidak pernah mengindahkan isyarat dari Tuhan. Inilah aku, yang tidak merasa kecilnya diri sebagai manusia dan besarnya kuasa Tuhan dalam kehidupan.

Memberikan upaya tidak boleh kurang dari maksimal, sekarang pun hal itu tetap kulakukan tapi sepertinya aku tidak ingin meledakkan bendungan lagi. Semoga aku selalu disadarkan.

NB. Tulisan ini ditulis oleh penulisnya dalam keadaan sabar dan ikhlas