Tag

, ,

Oke, mulai dari mana ya?

Kalo kamu pernah lihat kisah sinetron Tersandung Season 1 sampai ~ atau Elek – Elek Garangan, kira – kira sembulet itulah cerita hidupku, rangkaian konflik mulai yang gak penting dan kurang penting silih berganti.

Di tengah ketidakpentingan itu, aku punya sederet impian sebanyak kitab 10.000 tafsir mimpi.

Kitab Andalan Para Peramal.

Dulu, impian saya adalah . . . . (krik) (krik) ? ?

Walaupun sedikit ngga fokus, tapi secara garis besar impian saya ada di seputar uang. Wajar lah, orang yang terbiasa miskin ya pasti pengen punya uang, buat beli mobil, pesawat, dan beli peraturan pemerintah biar bisnis makin lancar brohhh.

Karena dibesarkan secara melankolis dan matrilianis surrealis, harus diakui saya punya kecenderungan bermentalitas korban. Apa itu? Kecenderungan menyalahkan sesuatu atau seseorang, saat situasi berjalan sedikit di luar rencana. Baru – baru ini aja sadar, sejak hadir di Dream Powerhouse yang di-organize oleh Kaendra Production. (Puroomosi sist, yuk diorder)

Impian saya dulu, terangkum dalam 3 kata; Kaendra Raya Eterna. Saya jelasin artinya, biar gak salah paham. Kaendra itu saya, kaendra = jaKA mahENDRA, see? Lalu, Raya itu artinya sudah tahu kan? Bueessaaarrr, jika dikaitkan dengan lemak tubuh, kata yang satu ini sudah tercapai. Eterna, dari kata Eternal dan ini bukan merk kompor gas, artinya adalah Abadi.

Ya, visi saya adalah membangun kerajaan bisnis raksasa, yang hanya mampu dihancurkan oleh Tuhan lewat hari kiamat.

Yang saya tidak tahu adalah, ternyata semua tak semudah bikin indomie goreng atau Jas Jus. Beginner luck, istilah itu tepat buat saya. Di usia 24, perusahaan saya sudah menangani kontrak ratusan juta dan mulai mengalami delusi. Saya merasa seperti Midas, serta mulai sombong seperti Fir’aun.

Di tengah perjalanan, badai pertama datang; penagihan yang tak kunjung mencair di musim panas. Dana investor stuck di satu project. Menyusul kedatangan para Abu Nawas yang meminjam uang dengan jaminan janji manis tapi Alhamdulillah sampai sekarang, masih tetep belum kebayar. Haha.

Puncaknya, adalah badai tornado level F5. Tuhan manggil ayah kandung saya, di saat kondisi hidup hancur berserakan. Saya luar biasa merasa bersalah, karena di akhir hidupnya beliau masih bekerja, saya belum mampu memberinya masa pensiun yang berkecukupan.

Di tahap ini, pikiran saya mulai meracuni. Depresi tiba, penyakit pun datang. Saya sempat diserang gangguan saraf ke-7 dan tingkat asam urat tinggi.

Pikiran memang adalah pedang bermata dua.

To Liong To gan.

To Liong To gan.

Jadi saya memutuskan untuk mulai belajar mengendalikan pedang itu, saya mulai menonton serial To Liong To / Golok Pembunuh Naga (dulu tayang di Indosiar).

Setelah mengalami semua itu, saya sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Keluarga dan kesehatan adalah yang utama. Tapi, saya bersyukur. Ini adalah semacam early warning dari Tuhan untuk bekal hidup ke depan.

Sekarang saya lebih realistis memandang dunia, jika orang bertanya apa impian saya? Saya jawab TETAP!

Setelah semua yang saya lalui, rugi donk kalo saya nyerah. Air mata dan darah sudah terlanjur jatuh. Kerajaan belum sempat terbangun, udah mau brenti. GILE LU NDROK!

There will be haters, doubters, non-believers, and then there will be YOU, proving them wrong.

I will rise, for God has promised.

— Kaendra Raya Eterna